Abdul Halim Abu Shaqqa: Pemikir dan Penerbit yang Berdedikasi

by -121 Views
Profesor Abdul Halim Abu Shaqqa: Pemikir dan Penerbit yang Berdedikasi

Kali ini, kita akan membahas sosok pemikir besar, penerbit, dan kontributor penting dalam dunia pemikiran Islam, yaitu Profesor Abdul Halim Mohammed Abu Shaqqa.

Beliau dikenal sebagai seorang pemikir yang memiliki proposal dan kontribusi penting dalam berkomunikasi dengan ide-ide non-Islam, serta pengikutnya yang setia.

Baca Juga: Anwar Al-Jundi: Sang Penulis dan Pemikir Islam dari Mesir

Latar Belakang dan Pendidikan

Profesor Abu Shaqqa lahir pada tahun 1924. Meskipun ia berasal dari latar belakang pendidikan kewarganegaraan, bukan pendidikan agama, ia tumbuh sebagai seorang Muslim yang taat.

Seperti banyak syekh dan pemikir lainnya, ia lulus dari perguruan tinggi sipil. Namun, ia mengakui bahwa dirinya tidak terlalu pandai dalam meraih nilai tinggi saat ujian.

Meski begitu, ia dikenal sebagai ilmuwan yang kuat dalam menulis buku-buku ilmiah.

Sayangnya, Abu Shaqqa menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan studi pascasarjananya. Meskipun demikian, ia tetap dihormati dan diterima oleh banyak kalangan.

Ia kemudian berinteraksi dengan banyak cendekiawan dan belajar di bawah bimbingan ulama-ulama terkemuka, baik di rumah maupun di masjid.

Minat pada Ilmu Hadits

Abu Shaqqa memiliki minat yang besar dalam mempelajari Hadits.

Ia belajar di bawah bimbingan Syekh Ahmed Mohammed Shaker, seorang peneliti terkenal yang meneliti Musnad Imam Ahmad dan Sahih Ibn Hibban.

Selain itu, ia juga belajar dari Syekh Muhammad Al-Khader Hussein dan Syekh Al-Albani selama perjalanannya ke Suriah.

Ketertarikannya pada ilmu Hadits terlihat jelas dalam karya-karyanya, terutama dalam bukunya yang berjudul The Liberation of Women in the Era of the Message.

Buku ini menunjukkan kedalaman pengetahuannya tentang Hadits dan pemahamannya yang mendalam terhadap teks-teks Islam.

Karier dan Kontribusi

Setelah lulus, Abu Shaqqa bekerja sebagai guru di sekolah menengah khusus perempuan. Kemudian, ia mendapat kesempatan untuk bekerja di Qatar sebagai direktur sekolah menengah atas putra.

Selama di Qatar, ia membuat keputusan penting untuk bergabung dengan gerakan Islam di Mesir.

Abu Shaqqa memiliki visi untuk mendirikan penerbitan yang bertujuan menyebarkan ilmu dan buku-buku bermanfaat.

Ia mendirikan Dar Al-Qalam di Kuwait, yang menerbitkan buku-buku penting karya ulama seperti Muhammad Abdullah Daraz, Syekh Al-Qaradawi, dan lainnya.

Pendirian Majalah “Muslim Kontemporer”

Salah satu kontribusi terbesar Abu Shaqqa adalah pendirian majalah Muslim Kontemporer (Al-Muslim Al-Mu’asir)

Majalah ini menjadi wadah bagi para cendekiawan senior untuk menulis dan berdiskusi tentang pembaruan pemikiran Islam.

Abu Shaqqa memperkenalkan format baru dalam majalah ini, dengan memulai edisi pertamanya sebagai “Edisi Pembukaan” sebelum edisi pertama resmi.

Majalah ini menjadi tujuan utama bagi pembaca yang tertarik dengan pembaruan intelektual dan yurisprudensi Islam.

Abu Shaqqa juga mengundang para ulama seperti Syekh Al-Qaradawi, Dr. Muhammad Salim Al-Awa, dan Profesor Fahmy Huwaidi untuk mengevaluasi dan mengembangkan kurikulum majalah.

Karya tentang Perempuan dalam Islam

Abu Shaqqa menulis buku penting berjudul Pembebasan Perempuan di Era ar-Risalah (Tahrir al-Mar’ah fi ‘Asr al-Risalah).

Buku ini membahas isu-isu perempuan secara adil, berdasarkan teks-teks dari Al-Quran, Hadits Bukhari, dan Muslim.

Ia meminta ulama seperti Syekh Al-Ghazali dan Syekh Al-Qaradawi untuk meninjau bukunya sebelum publikasi.

Buku ini menuai kritik keras, meskipun Abu Shaqqa hanya menggunakan sumber-sumber yang dapat diandalkan.

Syekh Al-Qaradawi membelanya dengan mengatakan, “Janganlah kamu mendurhakai Abu Shaqqa, karena ia hanya mengutip dari Al-Quran, Bukhari, dan Muslim.”

Dialog dengan Pemikir Non-Islam

Salah satu keunggulan Abu Shaqqa adalah kemampuannya dalam berdialog dengan pemikir non-Islam.

Ia berhasil mengembalikan beberapa pemikir ke barisan Islam, seperti Adel Hussein, Fahmy Huwaidi, dan Tariq Al-Bishri.

Abu Shaqqa percaya pada pentingnya dialog internal antarumat Islam dan dialog dengan pemikiran sekuler.

Ia mengutip Rashid Ridha, “Kami bekerja sama dalam hal yang kami sepakati dan saling memaafkan dalam hal yang tidak kami sepakati.”

Jangan Lewatkan: Syekh Muhammad Al-Ghazali: Ulama Modern yang Menginspirasi Dunia Islam

Penutup

Profesor Abdul Halim Abu Shaqqa adalah sosok yang berdedikasi dalam bidang penulisan, penerbitan, dan dialog pemikiran.

Karyanya dalam membahas isu-isu perempuan dan pembaruan pemikiran Islam meninggalkan warisan yang berharga bagi umat Islam.

Semoga Allah merahmatinya dan menerima segala amal baiknya.

Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=KKC8v_QVWGc&list=PLV6Mv2PX25TDGMn3cG_uFyK2kYsAwEM18&index=2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.