Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir engkau tidak menemukan satu ekor pun yang layak dijadikan rahilah.” (HR. Bukhari No. 6489, Muslim No. 2547)
Kata Rahilah di dalam bahasa Arab bermakna unta yang unggul dan terpilih, dimana ia bisa ditunggangi dalam menempuh perjalanan yang jauh dengan membawa beban yang berat.
Hadits di atas memiliki beberapa makna, yaitu sebagai berikut:
Imam Al-Azhari mengatakan, makna hadits ini adalah orang yang zuhud di dunia, yaitu yang sempurna zuhudnya di dunia dan bersemangat untuk kehidupan akhirat sangat sedikit sekali jumlahnya, sebagaimana unta rahilah di antara unta lainnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari berkata, “Makna hadits ini adalah, nyaris tak didapatkan di antara ratusan ekor unta yang layak untuk dijadikan tunggangan, karena unta yang layak dijadikan tunggangan harus jinak dan mudah dikendalikan.
Maknanya, nyaris tak ada di antara ratusan manusia yang layak untuk dijadikan sahabat, yang sudi menolong temannya dan bersikap lembut terhadap teman karibnya.”
Al-Khattabi bertaka, para ulama mentakwilkan hadits di atas kepada dua makna: Makna pertama, hukum-hukum agama yang dibebankan kepada manusia itu sama, tidak ada keistimewaan bagi orang yang terhormat atas orang biasa, tidak ada keistemewaan bagi orang yang derajatnya tinggi atas orang yang rendah.
Mereka bagaikan sekawanan unta yang di tengah-tengahnya tidak ada unta yang lebih unggul, yaitu unta tunggangan yang bisa ditunggangi.
Makna kedua: Kebanyakan manusia memiliki kekurangan. Orang yang memiliki keunggulan jumlahnya sedikit sekali.
Baca Juga: Pengembangan Diri Melalui Akhlak: Menjadi Muslim yang Lebih Baik
Pilih Teman dan Sumber Daya yang Unggul
Terdapat beberapa Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits ini. Pelajaran kesatu: Hendaknya seorang muslim memilih teman-teman yang memiliki keunggulan sehingga bisa bersinergi dalam perjuangan dan membangun kehidupan.
Demikian pula para da’i dan pendidik hendaklah mencari dan merekrut sumber daya manusia yang unggul. Jumlah mereka itu sedikit dan langka. Keterlibatan mereka dalam dakwah akan memberi pengaruh besar yang tidak bisa dibandingkan dengan pengaruh orang selain mereka.
Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah, dimana beliau berdo’a kepada Allah,
“Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua laki-laki ini, yaitu Umar bin Khattab dan Amer bin Hakam (Abu Jahal).”
Berkat doa tersebut Umar masuk Islam dan berkat keislaman Umar Rasulullah mampu mendakwahkan Islam kepada penduduk Mekkah secara terang-terangan.
Realistis dalam Menetapkan Target
Pelajaran kedua: seorang da’i dan pendidik harus bersikap realistis dalam menetapkan target kepada para anak didik mereka.
Tidak boleh menetapkan target yang paling ideal dan memaksa semua orang untuk bisa mencapainya. Kebanyakan manusia itu memiliki kemampuan yang berada dalam kadar rata-rata.
Sangat sedikit dari mereka yang memiliki keunggulan, sehingga kalau dipaksakan untuk mencapai target ideal, banyak di antara mereka yang akan mereka tertekan dan lari dari dakwah.
Hindari Membandingkan Orang Lain
Pelajaran ketiga: Ketika didapatkan orang yang memiliki keunggulan tertentu, maka tidak boleh dibandingkan dengan yang lain. Karena setiap orang memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing.
Di antara fenomena yang banyak terjadi, banyak orang tua suka membanding-bandingkan anak mereka dengan anak yang lainnya atau dengan saudara kandungnya sendiri.
Atau seorang guru membandingkan seorang murid dengan murid yang lainnya dalam pencapaian prestasi dan keunggulan.
Prilaku membandingkan anak dengan anak yang lain akan berdampak negative, seperti membuatnya ragu dengan kemampuan sendiri, menimbulkan kecemburuan, kecemasan sosial, persaingan yang tidak sehat dan lain-lain.
Kembangkan Potensi Beragam, Bukan Hanya Intelektual
Pelajaran keempat: Standar penilaian terhadap anak didik atau objek dakwah tidak boleh terpaku hanya kepada kecerdasan intelektual.
Sebab potensi yang dimiliki setiap orang itu banyak ragamnya, ada orang yang memiliki keunggulan dalam bidang seni, ada yang memiliki keunggulan dari sisi fisik, ada yang memiliki kelebihan dalam finansial dan lain-lain.
Apabila potensi-potensi tersebut dikembangkan, akan sangat bermanfaat untuk pengembangan personal, juga untuk pengembangan dakwah dan pendidikan.
Berambisi Menjadi yang Terbaik
Kelima: seorang muslim harus memiliki semangat dan obsesi yang tinggi untuk memiliki keunggulan dalam ilmu dan amal. Memacu diri untuk berkontribusi dan memberi manfaat yang banyak bagi orang lain.
Tidak terkungkung dengan urusan-urusan personal. Berusaha untuk lebih unggul dari kebanyakan orang, berusaha menjadi orang yang mampu menyelesaikan problematika umat, aktif membimbing mereka dan memperbaiki urusan mereka.
Jangan Lewatkan: Kewajiban al-Akh #1: Memiliki Wirid Harian dari Al Quran
Khatimah
Demikianlah tugas dan amanah yang diemban orang-orang pilihan dari para nabi, rasul dan orang-orang shaleh yang berkorban dalam mengantarkan hidayah kepada manusia dan memperbaiki jalan hidup mereka.
Mereka tidak hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi hidup membawa rahmat untuk umat, memberi perlidungan kepada orang lemah dan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan.
Hadits tentang 100 ekor unta mengajarkan kita untuk rendah hati, realistis, dan terus berupaya menjadi pribadi berkualitas.
Dengan memahami keunikan dan keterbatasan manusia, kita bisa menghargai peran masing-masing dan bersinergi membangun kebaikan bersama.





