Perang Sudan: Turki Serukan Perdamaian dan Soroti Tragedi Dunia Muslim

by -160 Views
Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan. | Foto: Anadolu Agency.

Khartoum, 4 Maret 2025 – Konflik berdarah di Sudan antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang meletus sejak April 2023 terus memakan korban jiwa dan memicu krisis kemanusiaan besar.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyebut situasi ini sebagai “tragedi bagi dunia Muslim” dan mendesak komunitas internasional, khususnya negara-negara Islam, untuk bertindak lebih serius.

Menurut data PBB dan otoritas lokal Sudan, perang ini telah menewaskan lebih dari 20.000 orang dan mengungsikan 14 juta jiwa.

Namun, penelitian dari universitas-universitas Amerika Serikat memperkirakan angka kematian jauh lebih tinggi, mencapai 130.000 orang, akibat pertempuran langsung, kelaparan, dan runtuhnya layanan kesehatan.

Pertempuran yang bermula di Khartoum kini meluas ke Darfur, ditandai dengan laporan kekerasan etnis dan kejahatan kemanusiaan oleh kedua belah pihak.

Fidan, dalam pernyataannya kepada Anadolu Agency, menegaskan komitmen Turki untuk membantu Sudan. “Selama Presiden Erdogan dan kami menjabat, kami akan terus percaya bahwa kebijakan kami membawa perdamaian ke kawasan dan dunia,” ujarnya.

Turki telah mengirimkan bantuan kemanusiaan berupa makanan dan obat-obatan serta menawarkan mediasi untuk menghentikan konflik. Pada Januari 2025, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, pemimpin SAF, menyambut baik tawaran Turki, meski RSF hingga kini belum memberikan tanggapan resmi.

Baca Juga: Penjajah Israel Perluas Pendudukan di Suriah: Rencana Pemukiman Tandai Upaya Aneksasi Permanen

Konteks Konflik dan Peran Turki

Konflik Sudan berakar pada perebutan kekuasaan antara SAF, yang dipimpin al-Burhan, dan RSF di bawah Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo (Hemedti), usai lengsernya Presiden Omar al-Bashir pada 2019.

Ketegangan memuncak saat rencana integrasi RSF ke dalam militer nasional memicu bentrokan bersenjata. Upaya gencatan senjata oleh Uni Afrika, Arab Saudi, dan AS sejauh ini gagal.

Turki, yang memiliki hubungan historis dengan Sudan, juga memasok drone Bayraktar TB2 kepada SAF, membantu mereka memukul mundur RSF di beberapa wilayah. Langkah ini menuai kritik karena dapat melemahkan netralitas Turki sebagai mediator.

Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Oncu Keceli, pada awal tahun ini menegaskan bahwa Ankara tetap berkomitmen pada dialog damai dan mendesak kedua pihak menghentikan pertumpahan darah.

Jangan Lewatkan: Film “No Other Land” Raih Oscar untuk Dokumenter Terbaik, Soroti Pendudukan Israel di Palestina

Krisis Kemanusiaan Memburuk

Dampak perang terhadap warga sipil Sudan sangat menghancurkan. Jutaan orang menghadapi kelaparan akut, dan fasilitas medis hampir lumpuh total.

Laporan LSM internasional menyebut RSF melakukan eksekusi dan pemerkosaan massal, sementara SAF dituduh menyerang kawasan sipil. Krisis ini kini menjadi salah satu tragedi pengungsian terbesar di dunia.

Fidan menekankan perlunya solidaritas dunia Islam. “Ini bukan hanya masalah Sudan, tetapi tanggung jawab kita semua,” katanya.

Analis menilai sikap Turki juga didorong oleh kepentingan strategis, termasuk menandingi pengaruh Uni Emirat Arab, yang diduga mendukung RSF.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda konflik mereda. Dunia menanti apakah mediasi Turki dapat membawa harapan bagi rakyat Sudan yang terus menderita. (im)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.