Pembicaraan kita hari ini adalah tentang salah satu tokoh pemikir besar Arab dan Islam, yaitu Ustaz Abbas Mahmud al-Aqqad. Al-Aqqad lahir pada tahun 1889 dan wafat pada tahun 1964.
Ia dilahirkan di Aswan, Mesir, dalam sebuah keluarga dengan kondisi ekonomi menengah. Ia belajar di sekolah desa, namun tidak menyelesaikan pendidikannya lebih dari tingkat dasar.
Baca Juga: Syaikh Muhammad Mustafa Al-Maraghi: Pejuang Pembaru Islam dan Al-Azhar
Awal Karier dan Perjalanan Intelektual
Al-Aqqad kemudian pergi ke Kairo dan memulai kariernya di bidang jurnalistik dengan menulis untuk majalah “Al-Muayyad” yang diterbitkan oleh Ustaz Muhammad Farid Wajdi, semoga Allah merahmatinya.
Pena Al-Aqqad terasah dalam menulis, dan ia dikenal sebagai penulis yang kuat, solid, dan kreatif. Namun, pada masa ini, ia lebih cenderung menulis tentang masalah politik.
Ia juga memiliki kecenderungan untuk mendukung Partai Wafd Mesir saat itu dan sangat dekat dengan pemimpin Mesir yang telah wafat, Saad Zaghloul Pasha, semoga Allah merahmatinya.
Peran Al-Aqqad dalam Politik dan Perlawanan terhadap Ketidakadilan
Kemudian, Ustaz Abbas Mahmud al-Aqqad terpilih sebagai anggota parlemen Mesir. Namun, karakter Al-Aqqad yang dikenal tegas, kuat, keras, dan memiliki harga diri yang tinggi membuatnya tidak pernah menerima ketidakadilan.
Pada masa itu, Raja Fuad berusaha mengubah atau memanipulasi konstitusi Mesir yang ditulis pada tahun 1923. Konstitusi tersebut memiliki dua pasal penting:
- Umat adalah sumber kekuasaan.
- Dewan Perwakilan Rakyat memiliki hak untuk mengkritik dan meminta pertanggungjawaban pemerintah.
Raja Fuad ingin menghapus kedua pasal ini, namun Al-Aqqad dengan lantang menentangnya di parlemen, bahkan mengatakan bahwa mereka siap menghadapi siapa pun yang berani mengubah konstitusi.
Akibatnya, ia dipenjara selama sekitar enam bulan dengan tuduhan menghina Raja Fuad.
Setelah bebas, Al-Aqqad tetap teguh pada pendiriannya dan melanjutkan perjuangannya.
Karya-karya Awal: Sastra dan Politik
Pada masa ini, sebagian besar tulisannya berkisar pada sastra dan politik, termasuk puisi, artikel politik, analisis mendalam, serta biografi tokoh-tokoh Arab dan non-Arab seperti Gandhi.
Ia juga menulis tentang beberapa penguasa Muslim, seperti Muhammad Ali Jinnah.
Peralihan ke Penulisan tentang Islam
Namun, Al-Aqqad kemudian beralih ke penulisan tentang Islam setelah membaca buku Muhammad Husain Haikal tentang kehidupan Nabi Muhammad. Ia menulis serangkaian buku yang disebut “Abqariyat” (Kejeniusan), dimulai dengan:
- Kejeniusan Muhammad SAW
- Kejeniusan Umar
- Kejeniusan Abu Bakar
- Kejeniusan Ali
- Kejeniusan Utsman
- Kejeniusan Khalid
- Kejeniusan Isa Al-Masih
Selain itu, ia juga menulis tentang wanita dalam Al-Qur’an, manusia dalam Al-Qur’an, dan berbagai topik Islam lainnya.
Gaya Penulisan dan Pendekatan Filosofis
Tulisan-tulisan Al-Aqqad tentang Islam dikenal dengan kedalaman filosofisnya dan tanggapan ilmiah yang kuat terhadap isu-isu yang diangkat tentang Islam dan Al-Qur’an.
Ia menggunakan pendekatan filosofis dan rasional yang kuat, yang menjadi nilai tambah karena kebanyakan penulis pada masa itu adalah ulama yang menulis untuk kalangan akademis.
Al-Aqqad, sebaliknya, menulis untuk menjangkau non-Muslim, orang-orang yang tidak religius, dan mereka yang memiliki budaya Barat atau non-Arab.
Karya Penting: “Budaya Arab Lebih Dahulu daripada Budaya Yunani”
Salah satu karya pentingnya adalah buku kecil berjudul “Budaya Arab Lebih Dahulu daripada Budaya Yunani”, yang menunjukkan minatnya dalam membandingkan budaya dan pemikiran. Ini menandai lahirnya seorang pemikir besar dalam dunia pemikiran Islam modern.
Buku “Berpikir adalah Kewajiban Islam”
Al-Aqqad juga menulis buku berjudul “Berpikir adalah Kewajiban Islam”, di mana ia mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang pentingnya berpikir.
Ia menyimpulkan bahwa Islam mendorong manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami alam semesta, dan bahwa mengabaikan akal berarti mengabaikan fungsi yang telah Allah tetapkan.
Analisis dalam “Kejeniusan Umar”
Dalam “Kejeniusan Umar”, Al-Aqqad menunjukkan bagaimana Islam menciptakan sistem yang membatasi kekuasaan penguasa dan memberikan hak kepada rakyat.
Misalnya, ketika Umar bin Khattab mendengar orang-orang minum khamr, ia menegur mereka, namun mereka balik menegur Umar karena memasuki rumah mereka tanpa izin.
Al-Aqqad menekankan bahwa kejeniusan di sini bukan hanya milik Umar, tetapi juga sistem Islam yang adil.
Membantah Tuduhan tentang Perpustakaan Alexandria
Al-Aqqad juga membantah tuduhan bahwa Umar bin Khattab membakar Perpustakaan Alexandria.
Ia membuktikan bahwa perpustakaan tersebut telah hancur sebelum Islam masuk ke Mesir, dengan merujuk pada sejarawan non-Muslim seperti Edward Gibbon.
Jangan Lewatkan: Sheikh Yusuf Al-Qaradawi: Kehidupan dan Kontribusinya di Dunia Islam
Tujuan Penulisan: Menghilangkan Keraguan tentang Islam
Tulisan-tulisan Al-Aqqad tentang Islam bertujuan untuk menghilangkan keraguan dan menunjukkan keagungan agama ini.
Ia menulis dengan harapan karyanya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti yang terjadi dengan bukunya “Kebenaran Islam dan Kebohongan Lawannya”, yang ditulis untuk Konferensi Islam pada tahun 1957.
Warisan dan Pengaruh Al-Aqqad
Dengan peralihannya ke penulisan tentang Islam, Al-Aqqad menjadi penulis Islam yang berpengaruh, memperkaya perpustakaan Islam dengan karya-karya tentang:
- Filsafat Al-Qur’an
- Wanita dalam Al-Qur’an
- Manusia dalam Al-Qur’an
- Biografi para sahabat dan nabi
Semoga Allah merahmatinya, Abbas Mahmud al-Aqqad, sang jenius Muslim.
(Dituturkan oleh syaikh Isham Thalima.)





