Turki Bergerak Ambil Alih Pangkalan Udara Strategis T4 di Suriah

by -126 Views
Ilustrasi militer Turki (Foto Middle East Eye)

Ankara berencana menggunakan pangkalan ini untuk melawan ISIS dan menahan serangan udara Israel di Suriah, kata sumber.

Menurut laporan dari sumber yang mengetahui masalah ini kepada Middle East Eye (MEE), Turki sedang mempersiapkan langkah untuk mengambil alih kendali pangkalan udara strategis Tiyas, atau yang lebih dikenal sebagai T4, di Suriah.

Rencananya, Turki juga akan mengerahkan sistem pertahanan udara canggih seperti Hisar di lokasi tersebut. Selain itu, konstruksi fasilitas tambahan di pangkalan ini dilaporkan sudah dalam tahap perencanaan.

Sejak penggulingan Bashar al-Assad pada Desember lalu, Ankara dan Damaskus telah melakukan pembicaraan intensif mengenai pakta pertahanan bersama.

Baca Juga: Houthi Laporkan Serangan Ketiga ke Bandara Ben Gurion Israel dalam 48 Jam

Kesepakatan ini bertujuan agar Turki menyediakan perlindungan udara dan dukungan militer kepada pemerintah baru Suriah, yang saat ini masih kekurangan kemampuan militer yang memadai.

Meskipun pejabat Turki sebelumnya meremehkan kemungkinan kehadiran militer langsung di Suriah dengan menganggap rencana tersebut terlalu dini, negosiasi tetap berlangsung secara diam-diam.

Dengan penarikan Rusia dan Iran dari wilayah tersebut, Turki melihat peluang untuk mengisi kekosongan kekuasaan dan membantu menstabilkan situasi di Suriah lewat kekuatan militernya.

Menargetkan ISIS dan Menghalau Ancaman Israel

Salah satu tujuan utama Turki adalah meningkatkan operasi militer mereka terhadap kelompok teroris ISIS, yang masih memiliki sel-sel operasional di gurun Suriah.

Ini juga menjadi syarat penting bagi Amerika Serikat untuk mempertimbangkan penarikan pasukannya dari kawasan tersebut.

“Turki telah mulai bergerak untuk mengambil kendali atas pangkalan udara T4, yang terletak di dekat Palmyra,” ungkap salah satu sumber kepada MEE. “Sistem pertahanan udara tipe Hisar akan ditempatkan di T4 untuk memberikan perlindungan udara.”

Setelah sistem pertahanan dipasang, pangkalan tersebut akan direkonstruksi dan diperluas dengan fasilitas yang diperlukan.

Ankara juga berencana mengerahkan drone pengawasan dan bersenjata, termasuk model dengan kemampuan serangan jarak jauh.

Pangkalan T4 nantinya akan digunakan oleh Turki untuk mendominasi kontrol udara di wilayah tersebut serta mendukung upaya memerangi ISIS. Ankara berencana membangun sistem pertahanan udara berlapis di sekitar pangkalan, mencakup kemampuan jarak pendek, menengah, hingga jarak jauh untuk menghadapi ancaman beragam, mulai dari jet tempur, drone, hingga rudal.

“Ini juga akan membuat Israel berpikir dua kali sebelum melancarkan serangan udara di area tersebut,” tambah sumber kedua.

Mengganggu Kebebasan Operasi Penjajah Israel

Israel telah secara rutin menyerang instalasi militer Suriah sejak runtuhnya pemerintahan Assad pada bulan Desember. Baru-baru ini, serangan udara Israel mengincar pangkalan T4 dan Palmyra, dengan target utama landasan pacu serta aset strategis lainnya.

Seorang sumber keamanan Israel mengatakan bahwa keberadaan pangkalan udara Turki di Suriah dapat mengurangi kebebasan operasi Israel di wilayah tersebut. “Ini adalah potensi ancaman yang kami tolak,” ujar sumber tersebut kepada Jerusalem Post.

Ketegangan Baru Turki vs Israel

Ketegangan antara Turki dan Israel semakin memanas sejak dimulainya perang Israel di Gaza pada 2023, yang mengakhiri periode rekonsiliasi singkat antara kedua negara.

Runyamnya situasi politik di Suriah pasca-kejatuhan Assad, ditambah dominasi Turki di wilayah tersebut, membuat Israel semakin khawatir. Bagi Tel Aviv, Ankara kini dianggap sebagai ancaman regional yang lebih besar daripada Iran.

“Serangan terhadap pangkalan militer T4 minggu lalu adalah pesan kuat: kami tidak akan membiarkan ada ancaman terhadap kebebasan operasi udara kami,” lanjut sumber keamanan Israel.

Rencana Sementara untuk S-400

Seorang sumber pertama MEE mengungkapkan bahwa Turki sedang mempertimbangkan penempatan sementara sistem pertahanan udara S-400 di T4 atau Palmyra untuk mengamankan wilayah udara selama proses rekonstruksi. Namun, keputusan akhir belum diambil, dan persetujuan Rusia diperlukan.

Di sisi lain, Ankara dan Washington tengah membahas pencabutan sanksi terhadap Turki terkait pembelian sistem S-400 buatan Rusia, yang menyebabkan penghapusan Turki dari program jet tempur F-35 pada 2019.

Dalam percakapan telepon bulan lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membahas kemungkinan Turki bergabung kembali dalam program tersebut.

Namun, sesuai hukum AS, Turki harus melepaskan kepemilikan S-400 untuk bisa kembali bergabung. Pejabat Turki mengusulkan opsi menonaktifkan sistem tersebut dengan cara membongkar dan menyimpannya, atau memindahkannya ke pangkalan yang dikendalikan Turki di luar negeri.

Jangan Lewatkan: Hamas Siap Hadapi Serangan Darat Israel di Gaza

Namun, Israel menentang keras langkah apa pun yang memungkinkan Ankara mendapatkan akses ke F-35, karena hal itu dinilai dapat melemahkan keunggulan militer kualitatif Israel di kawasan.

Dengan ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah, manuver Turki di Suriah tampaknya akan menjadi faktor signifikan dalam dinamika geopolitik regional ke depan.

Sumber: Middle East Eye.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.