Keutamaan Khusyuk dalam Salat Tarawih

by -119 Views
Cara Melaksanakan Salat Tarawih dengan Khusyuk di Bulan Ramadan

Pertanyaan: Apakah diperbolehkan melaksanakan salat tarawih dengan tergesa-gesa seperti yang sering kita lihat di sebagian masjid? Di mana para jamaah cenderung tidak memperhatikan kualitas ibadah ini dan hanya ingin menyelesaikannya secara cepat.

Bukankah yang lebih penting adalah menjaga khusyuk dalam salat, karena esensi ibadah bukan pada jumlah rakaat, tetapi pada kualitasnya?

Baca Juga: Berpuasa Saat Bepergian dengan Nyaman: Apakah Boleh Berbuka?

Jawaban syaikh Qaradhawi
Dengan menyebut nama Allah, segala puji bagi-Nya, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beribadah di bulan Ramadan dengan penuh iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

Dalam bulan Ramadan, Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk berpuasa di siang hari dan melaksanakan salat malam (qiyamul lail), yang kemudian dikenal sebagai salat tarawih. Semua amalan ini menjadi sarana pembersihan jiwa dari dosa-dosa dan kesalahan.

Namun, salat yang dapat membersihkan dosa dan menghapus noda-noda tersebut harus dilakukan dengan sempurna, sesuai dengan syarat-syarat, rukun-rukun, adab-adab, dan batas-batas yang telah ditetapkan.

Tuma’ninah dalam Shalat

Salah satu elemen penting dalam salat adalah ketenangan atau tuma’ninah . Ketika seseorang melaksanakan salat tanpa memperhatikan ketenangan, maka salat itu belum memenuhi standar yang benar.

Rasulullah SAW pernah berkata kepada seorang sahabat yang melaksanakan salat dengan kurang tenang, “Kembalilah dan ulangi salatmu, karena kamu belum benar-benar melaksanakannya.”

Beliau kemudian memberikan panduan tentang bagaimana cara salat yang diterima, “Rukuklah hingga kamu merasa tenang dalam rukuk, bangkitlah hingga kamu merasa tenang dalam posisi berdiri, sujudlah hingga kamu merasa tenang dalam sujud, dan duduklah antara dua sujud dengan tenang.”

Dari penjelasan ini, jelas bahwa ketenangan merupakan salah satu komponen wajib dalam salat.

Ukuran Tuma’ninah

Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran minimal ketenangan tersebut. Sebagian ulama menyatakan bahwa cukup dengan membaca tasbih sekali, misalnya “Subhan Rabbiyal A’la” .

Sementara itu, Imam Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa waktu minimal untuk ketenangan dalam rukuk dan sujud adalah setara dengan tiga kali tasbih.

Hal ini juga sejalan dengan sabda Nabi SAW bahwa tasbih biasanya diulang sebanyak tiga kali. Oleh karena itu, dalam setiap rukun salat, ketenangan minimal harus dipenuhi agar salat menjadi sah dan diterima oleh Allah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun ayat 1-2:
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salat mereka.”

Dua Jenis Khusyuk dalam Salat

Khusyuk dalam salat bisa dibagi menjadi dua jenis: khusyuk fisik dan khusyuk hati.

Khusyuk Fisik

Ini berarti tubuh harus tenang, tidak gelisah, dan tidak bergerak-gerak tanpa alasan.

Gerakan-gerakan dalam salat harus dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa terburu-buru seperti burung gagak yang mencocok tanah.

Setiap rukun salat, baik rukuk maupun sujud, harus dilakukan dengan sempurna sesuai dengan tuntunan agama.

Khusyuk Hati

Kehadiran hati sangat penting dalam salat. Ini berarti seorang muslim harus memahami keagungan Allah SWT saat membaca ayat-ayat Al-Qur’an, merenungkan maknanya, dan mengingat kehidupan akhirat.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman, “Aku membagi salat antara-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Jika hamba-Ku mengucapkan ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin,’ Aku berkata, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan ‘Ar-Rahman Ar-Rahim,’ Aku berkata, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan ‘Maliki Yaumiddin,’ Aku berkata, ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.'”

Oleh karena itu, Allah SWT tidak pernah jauh dari hamba-Nya yang sedang salat. Ia selalu mendengarkan dan merespons setiap doa dan bacaan dalam salat.

Jangan Sekedar Menggugurkan Kewajiban

Untuk itu, seorang muslim harus sepenuhnya hadir dalam salatnya, baik secara fisik maupun mental.

Sayangnya, banyak orang yang melaksanakan salat tarawih hanya untuk “menyelesaikan tugas”. Mereka melakukan 20 atau 30 rakaat dalam waktu singkat, tanpa memperhatikan kualitas gerakan salat, apalagi khusyuk.

Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa salat yang dilakukan dengan tergesa-gesa akan naik ke langit dalam keadaan hitam pekat, dan salat itu akan berkata kepada pelakunya, “Allah telah membiarkanmu seperti engkau telah membiarkanku.”

Sebaliknya, salat yang dilakukan dengan penuh khusyuk dan tenang akan naik ke langit dalam keadaan putih bersih, dan berkata kepada pelakunya, “Allah telah menjagamu seperti engkau telah menjagaku.”

Jangan Lewatkan: Apakah Pekerja dengan Tugas Berat Wajib Berpuasa?

Nasihat untuk Imam dan Jamaah

Untuk para imam dan jamaah yang melaksanakan salat tarawih dengan jumlah rakaat banyak namun tanpa khusyuk, kami menyarankan agar mereka lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas.

Melaksanakan delapan rakaat salat tarawih dengan penuh ketenangan, khusyuk, dan sempurna jauh lebih baik daripada melaksanakan 20 rakaat dengan terburu-buru.

Esensi ibadah bukan pada banyaknya jumlah, tetapi pada kualitas dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Apakah salat kita adalah salat orang-orang yang khusyuk, ataukah hanya sekadar ritual yang dilakukan dengan tergesa-gesa?

Kami berdoa kepada Allah SWT agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan khusyuk dalam ibadah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.