KBAI, 3 April 2025 – Tufts University menyerukan pembebasan segera Rumeysa Ozturk, seorang mahasiswi asal Turki yang ditahan oleh agen federal minggu lalu.
Presiden universitas tersebut, Sunil Kumar, menegaskan bahwa Ozturk harus “dibebaskan tanpa penundaan sehingga dia bisa kembali melanjutkan studinya dan menyelesaikan gelarnya” di Tufts.
Insiden penangkapan Ozturk oleh agen bersenjata dengan topeng pada bulan Maret lalu memicu kemarahan publik, terutama setelah video penangkapannya tersebar luas di media sosial.
Penangkapan ini menjadi bagian dari tindakan keras pemerintahan Trump terhadap aktivisme pro-Palestina di kampus-kampus AS, sebuah kebijakan yang telah memicu kekhawatiran serius tentang pembatasan kebebasan berbicara dan hak proses hukum.
Baca Juga: Seruan Persatuan Ulama Muslim Sedunia untuk Gaza
Pembelaan Universitas Tufts
Dalam pernyataan resminya, Tufts menyatakan bahwa mereka tidak memiliki informasi apa pun yang mendukung tuduhan bahwa Ozturk terlibat dalam kegiatan di kampus yang membenarkan penangkapan dan penahanannya.
Universitas menggambarkan Ozturk sebagai “anggota komunitas yang sangat dihargai, berdedikasi pada studi akademiknya, dan berkomitmen kepada rekan-rekannya.” Selain itu, dukungan besar juga datang dari mahasiswa dan staf universitas terhadap Ozturk.
Sebelum penahanannya, Ozturk dikenal karena keterlibatannya dalam tulisan opini di koran mahasiswa universitas pada Maret 2024.
Dalam artikel tersebut, ia mengkritik cara universitas menangani kemarahan mahasiswa terkait perang Israel di Gaza, konflik yang telah menewaskan lebih dari 50.000 orang sejak 7 Oktober 2023.
Dendam Politik Zionis-AS
Saat ini, Ozturk sedang memperjuangkan pembebasannya di pengadilan federal Massachusetts. Kasusnya menjadi sorotan nasional karena merupakan bagian dari upaya pemerintah AS untuk menargetkan demonstran asing di kampus-kampus bergengsi seperti Tufts, Columbia University, dan Harvard University.
Langkah ini dianggap sebagai bentuk balas dendam politik oleh banyak pihak, yang khawatir akan dampak negatifnya terhadap kebebasan akademik dan diskusi terbuka di perguruan tinggi.
Tufts bukan satu-satunya institusi yang terkena dampak. Columbia University, misalnya, mengumumkan serangkaian konsesi terhadap pemerintah, termasuk definisi antisemitisme dan pengawasan protes di kampus.
Namun, hal ini dinilai belum cukup memenuhi tuntutan keras pemerintahan Trump, meskipun proposal tersebut disambut positif.
Jangan Lewatkan: Demo di Massachusetts Memanas Menuntut Pembebasan Mahasiswi Turkiye yang Ditahan atas Tuduhan Kritik Israel
Tekanan Terhadap Dunia Akademik AS
Di sisi lain, pemerintah AS juga mengumumkan tinjauan atas dana sebesar $9 miliar untuk Harvard University terkait tuduhan antisemitisme di kampusnya.
Hal ini semakin menunjukkan intensitas tekanan yang diberikan pemerintah terhadap lembaga pendidikan tinggi di tengah isu sensitif ini.
Kasus Rumeysa Ozturk masih berlangsung, sementara Tufts University terus mendukung pembebasannya demi melindungi prinsip kebebasan akademik dan hak individu dalam komunitas akademis.




