Oleh : Iwan Rudi Saktiawan, SSi, MAg, CIRB
“Abi, jangan pulang dulu.” SMS dari istriku.
Posisiku sudah dekat rumah sehinga terlihat beberapa orang bertampang seram tengah berdiri di depan pintu rumah. Tak hanya dijaga atau dikejar debt collector seram, pengalaman buruk lainnya saat adalah saat barang-barang kami diangkut ke dalam sebuah truk, disaksikan oleh anakku, istriku dan para tetangga yang keheranan.
Sebuah episode kelam dalam hidupku karena bergelimang hutang akibat bisnis bangkrut sedangkan modal utama bersumber dari pinjaman lembaga keuangan. Namun, sebenarnya ada episode lain dari hidupku yang jauh lebih kelam lagi.
Episode terburuk dalam hidupku adalah ketika hubunganku dengan orang tua tidak baik. Peralatan produksi, harta benda, tanah, rumah disita, insya Allah bisa dicari lagi. Namun ketika ridho orang tua sudah hilang, kemana lagi akan dicari ? Upaya untuk memperbaiki hububungan baik misalnya datang untuk meminta maaf, telah berulang kali dilakukan, namun tetap juga masih bila bisa menjadikan hubungan kami baik.
Karena tidak setuju pacaran dan sangat termotivasi memiliki mitra lahir bathin untuk mendukung aktivitas dakwah Islam, aku nekad menikah meski belum lulus kuliah, belum memiliki pekerjaan tetap dan meski orang tuaku tidak memberi restu. Restu pernikahan hanya diperoleh dari pihak orang tua istri. Sejak saat itulah, hubunganku dengan orang tua menjadi tidak baik. Suatu niat yang bagus, namun sekarang aku baru faham itu suatu ketergesa-gesaan dan ditempuh dengan cara yang tidak baik.
Permasalahan mencapai puncaknya ketika istriku hamil tua di rumah nenek di Tasikmalaya, sementara aku harus Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Jatiluhur Purwakarta. Untungnya, di tempat KKN, pada sore harinya bisa memberi les komputer, sehingga ada sedikit penghasilan.
Seharusnya kelahiran anak pertama merupakan hal yang sangat menggembirakan siapapun. Namun pada saat tersebut justru sangat meresahkan. Aku tidak bisa menemani istri saat kelahiran putra pertamanya. Terbayang betapa repotnya istriku, mendapatkan pengalaman pertama melahirkan tanpa dibantu ibunya atau ibuku, meskipun alhamdulillah istri dibantu oleh nenekku karena melahirkan di rumah nenekku.
Meskipun hubungan istri dengan orang tuanya baik, namun Ibu mertua berbeda, tak mau direpotkan dalam membantu anak perempuannya yang melahirkan. Istriku berasal dari keluarga besar priyayi dan ayahnya adalah mantan petinggi perkebunan. Meskipun istri dari keluarga besar dengan enam orang saudara, namun ia dan masing-masing saudara-saudaranya memiliki satu orang pengasuh. Sehingga praktis Ibu mertua tidak pernah merasakan repotnya mengasuh anak kecil dan selanjutnya tidak mau direpotkan mengasuh cucu. Dibesarkan dalam kondisi keluarga seperti itu, maka wajar istriku pernah berkata,”Saya tidak menyukai anak-anak. Merepotkan saja.”
Di saat masalah pada masa-masa puncaknya, tiba-tiba keajaiban tiba. Lahirnya anak kami mengubah suasana seketika, secepat membalikkan tangan. Tidak diduga dan tidak diminta, orang tuaku bersedia mengantarkan cucunya dari Tasikmalaya ke Bogor, tempat kami mengontrak rumah. Sejak saat itu, hubungan kami dengan orang tuaku pulih. Saat wisuda, orang tuaku hadir. Sesekali orang tuaku berkunjung ke kediaman kami, kami pun sering bersilaturahim ke rumah orang tua dengan sambutan yang sangat baik.
Bila semula istriku membenci dunia anak-anak, kemudian ia malah menjadi pencinta dan penggiat dunia anak diantaranya dengan mendirikan dan mengajar TKIT. Sejak peristiwa itu kami benar-benar yakin, bahwa anak membawa rezeki. Rezeki apa lagi yang paling besar selain keridhoan dari orang tua ?



