Oleh : Iwan Rudi Saktiawan
Tilawah qur’anku terhenti, terdengar tangis keras anak bungsuku di tetangga sebelah.
“Abi,… tolong lihat Mufti. Mengapa Ia nangis..”Istriku yang sedang masak mendengar tangisannya juga. Anak bungsu kami yang baru berumur 3 tahun ini, dikenal cengeng sekaligus pemarah. Suara tangisnya terdengar jelas. Rumah kami berdempetan dengan tetangga.
Aku tak beranjak, karena tangisan Mufti kini berganti dengan tawa riangnya. Namun, aku tidak bisa melanjutkan tilawah. Fikiranku melayang jauh kembali ke masa-masa kecil. Suara tangisan Mufti mengingatkan akan tangisan-tangisanku saat itu.
Tangisan-tangisanku saat itu, bukan seperti Mufti yang karena mainannya direbut atau tidak dibolehkan meminjam mainan temannya. Tangisan-tangisanku saat itu, adalah karena dibully atas kondisi fisik sebagai penyandang disabilitas. Kaki kananku lebih kecil dibandingkan dengan yang kiri.
Prak !!! Suatu ketika, mainan yang kupegang dibanting oleh seorang bapak. Saat itu, aku sedang bermain dengan teman-teman di halaman rumah tetangga. Ternyata ia marah pada sekelompok anak-anak lelaki yang bermain di belahan halaman lain. Ia membanting boneka yang kupegang dan marah mengapa, aku malah bermain dengan anak-anak perempuan. Mengapa anak laki-laki lain tidak mau mengajak aku bermain dengan mereka.
Saat aku kecil, khususnya saat usia pra sekolah, aku memang agak terkucilkan terutama di kalangan anak-anak lelaki. Mungkin bagi mereka dengan kondisi fisik seperti ini, dianggap akan merepotkan, tidak bisa berlari kencang dan harus dibantu bila ke tempat-tempat tertentu. Dengan kondisi tersebut, tak heran, saat ada tugas sekolah, aku malah menghasilkan karya berupa boneka dari benang wol bukan kerajinan gergaji triplek yang saat itu sedang ngetrend di kalangan teman-teman lelaki pada zaman itu.
Bila menjelang usia sekolah aku yang sering menangis, maka ketika mulai beranjak usia sekolah dasar, teman-temanku yang sering menangis karena pelampiasan amarahku. Saat itu, aku mudah marah, mudah tersinggung, pokoknya super sensitif. Bukan hanya kata-kata yang keras, main tangan bahkan main kakipun sering kulakukan.
Namun alhamdulillah Aku bisa berubah menjadi lebih sabar. Sejak SMP, setelah mengikuti beragam kegiatan pesantren kilat, dan aktif di organisasi kesiswaan, aku bisa lebih mengendalikan diri. Bahkan setelah nyantri di Daarut Tauhiid Bandung, konon menurut orang-orang, alhamdulillah aku terbilang sabar dan tidak percaya bahwa aku pernah menjadi orang yang mudah marah.
Sejak bayi hingga SMA aku dibesarkan oleh nenek di Tasikmalaya karena orang tuaku bercerai saat aku masih bayi. Nenek membesarkanku dengan baik dan memacuku untuk selalu berprestasi. Alhamdulillah aku selalu juara kelas sejak SD hingga SMA, serta berprestasi di bidang seni dengan kerap menjuarai festival band, lomba puisi, serta sering tampil dalam acara pentas-pentas seni lainnya. Alhamdulillah saat tulisan ini dibuat, aku diberi amanah menjadi salah satu direksi di sebuah BPRS.
Pengalaman masa kanak-kanakku, menjadikanku tidak khawatir ketika anakku ada yang cengeng, pemarah, ataupun kekurangan yang lainnya. Pengalaman masa kanak-kanakku, menjadikanku yakin, bahwa setiap anak istimewa dan bila pun ada kelemahan pada saat ini, memiliki potensi besar untuk berubah menjadi jauh lebih baik lagi. Yang penting sebagai orang tua selalu membimbingnya dengan penuh kesabaran.



