Menanti Pembebasan Syaikh Salman al-Ouda

by -19229 Views
Syaikh Salman Audah.

Desember 2025 menjadi bulan penuh sorotan bagi dunia Islam internasional. Pasalnya, ulama dan cendekiawan asal Arab Saudi, Syaikh Salman al-Ouda — yang ditahan sejak September 2017 — hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pembebasan, meskipun banyak pemerhati menyatakan bahwa periode hukum yang membelenggunya seharusnya berakhir atau ditinjau kembali tahun ini.

Penahanan al-Ouda menjadi salah satu kasus paling menonjol dalam dinamika politik-keagamaan Saudi. Ia bukan hanya seorang penceramah populer, tetapi juga dikenal sebagai tokoh gerakan Sahwa (Islamic Awakening) yang memiliki basis massa besar dan dikenal moderat serta adaptif dengan wacana sosial kontemporer. Ia juga duduk dalam International Union of Muslim Scholars (IUMS) sebelum penangkapannya.

Ditangkap karena sebuah cuitan

Al-Ouda ditangkap pada 7 September 2017. Penahanan itu dipicu oleh sebuah cuitan Twitter yang menyerukan rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Qatar, pada saat hubungan kedua negara memburuk. 

Cuitan yang hanya berisi doa dan harapan perdamaian itu dianggap oleh otoritas Saudi sebagai tindakan “mengganggu stabilitas negara” dan “tidak mendukung kebijakan pemerintah.”

Jaksa kemudian mengajukan sekitar 37 dakwaan, beberapa di antaranya mencakup:

  • Menghasut opini publik
  • Mendukung organisasi atau gerakan terlarang
  • Menentang kebijakan negara
  • Aktivitas sosial-agama yang dinilai politis
  • Hubungan dengan lembaga ulama internasional

Yang paling mengejutkan, jaksa pernah menuntut hukuman mati terhadapnya — pemicu kritik keras komunitas internasional. Hingga kini proses hukum berlangsung tertutup, berulang kali ditunda, dan minim transparansi.

Organisasi HAM menyerukan pembebasan segera

Sejumlah lembaga HAM internasional menilai kasus ini sebagai bentuk pelanggaran atas hak kebebasan berpendapat. Amnesty International, Human Rights Watch, USCIRF, dan berbagai organisasi advokasi syariah moderat menuntut agar al-Ouda dibebaskan atau setidaknya mendapatkan proses peradilan terbuka dan independen.

Kelompok HAM melaporkan bahwa sejak penahanannya, kesehatan al-Ouda memburuk, termasuk gangguan penglihatan dan pendengaran. Ia juga disebut pernah menjalani isolasi sel tahanan dalam periode panjang. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pemerintah Saudi, terutama dalam konteks reformasi sosial yang digencarkan di bawah kepemimpinan putra mahkota.

Desember 2025: Tahun harapan?

Delapan tahun berlalu sejak al-Ouda ditahan. Bulan Desember 2025 memicu kembali wacana internasional tentang masa penahanannya, terutama karena:

  1. Masa tahanan panjang tanpa putusan final dipandang tidak proporsional.
  2. Kesehatan al-Ouda kian menurun menurut laporan HAM.
  3. Reformasi sosial Saudi menuntut konsistensi dengan standar hak sipil.
  4. Desakan dari keluarga, akademisi, dan umat Islam global semakin menguat.

Walau belum ada pernyataan resmi mengenai pembebasannya, sebagian pengamat menilai tahun 2025 dapat menjadi momentum politik penting bagi Riyadh untuk menunjukkan citra reformasi yang lebih terbuka dan stabil.

Di media sosial Arab, kampanye tagar #FreeSalmanAlOuda kembali menggeliat. Banyak ulama dan aktivis menilai bahwa pembebasan beliau akan menjadi simbol positif bagi rekonsiliasi sosial dan penghormatan terhadap suara keagamaan moderat.

Lebih dari sekadar kasus seorang ulama

Kasus Salman al-Ouda bukan hanya perihal satu orang. Ia menjadi simbol konflik antara negara, ulama, dan kebebasan opini dalam dunia Islam modern. Ketika banyak negara Muslim menghadapi tantangan politik, radikalisme, dan perubahan sosial, kebebasan berdakwah yang kritis — namun damai — adalah pilar penting dalam kehidupan umat.

Bila Saudi membebaskannya, itu dapat dibaca sebagai:

  • tanda inklusivitas dan kepercayaan pada dialog,
  • peluang rekonsiliasi antara negara dan gerakan Sahwa,
  • sinyal reformasi yang lebih berorientasi pada hak sipil,
  • dan penghormatan terhadap ulama yang dihormati jutaan muridnya di dunia.

Penutup

Desember 2025 menjadi titik refleksi dan ujian moral global: apakah Salman al-Ouda akan tetap mendekam di penjara, atau justru mendapatkan ruang kebebasan yang telah lama dinantikan?

Sebagian menilai ia ulama yang terlalu kritis, sebagian lain menganggapnya inspirasi moderasi umat. Namun satu hal tak terbantahkan — nama Salman al-Ouda telah menembus batas negara dan kini menjadi simbol perjuangan kebebasan suara Islam yang damai dan berakal.

Umat menunggu, sejarah mencatat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.