By: Iwan Rudi Saktiawan
Covid 19 telah berlalu, namun beberapa masih ada yang sakit pasca menderita terpapa, yang dikenal sebagai Long Covid, termasuk sakit jiwa. Sakit kejiwaan gara-gara pandemi Covid 19? … Bisa juga, sich. Konon, salah satu yang bikin jiwa bermasalah meski gak sampai gila, adalah karena selama pandemi, adanya pembatasan keluar rumah. Kondisi tersebut membuat galau banyak orang, terutama yang kebagian giliran isolasi mandiri apalagi sakit bergejalan. Meski hanya sebagai orang tanpa gejala (OTG), tidak ada sakit yang dirasakan, tetap saja, gak bisa ke mana-mana itu, bikin bete bestie!
Nah, bila hanya 14 hari gak bisa ke mana-mana saja sudah bikin kita bosan, gimana lagi bila sebulan, setahun atau bahkan lebih dari dua tahun? Wah, itu sich, bukan bikin bosan lagi, mungkin bisa bikin stress berat. Gak kebayang dech pasti ini merupakan penderitaan.
Mungkin kebanyakan orang akan Tidak bisa ke mana-mana bikin stress. Namun, bila menyimak kisah nyata berikut ini, bisa jadi kita pendapat kita berubah pikiran. Lho, kok bisa gitu?
***
Cerita ini diambil dari kisah nyata yang terjadi di sekitar tahun 2002. Saat itu, saya sedang mengobrol dengan istri saya, Emma Rohmah (ER) di rumah kami di suatu perumahan di atas bukit, yang karenanya, di pagi hari, sering diselimuti oleh kabut.
”Menurut Abi, kapan saat terbahagia dalam hidup kita?”ER mengawali obrolannya.
” Saat ijab kabul pernikahan!”Saya mencoba menjawab pertanyaan itu dengan yakin.
”Bukan!”ER menyanggah jawaban tersebut dengan segera.
“Malam pertama?” Saya mencoba mencari jawaban lain, dan mulai penasaran dengan kunci jawabannya.
“Bukan juga!” jawab ERI sambil tersenyum.
“Atau nanti saat anak-anak kita nanti diwisudah selepas kuliah?” Saya mencoba lagi dengan kepenasaran yang semakin tinggi.
ER mengelengkan kepalanya. Ternyata jawabannya masih salah.
Tak mau menyerah, Saya mencba menjawab lagi,”Atau nanti saat anak-anak kita menikah?”
“Bukan!”ER menjawab dengan tegas namun tetap lembut.
“Jawaban yang benar adalah SEKARANG. Saat Ini.”Jawab ER dengan tersenyum sambil memperhatikan saya yang melongo penuh keheranan.
Iya. Benar. Saya asli keheranan, serius! Heran bukan karena salah menjawab pertanyaannya. Namun sangat keheranan karena jawaban tersebut keluar dari ER dengan kondisi saat itu.
Saat itu, ER sudah hampir 2 tahun lebih menderita kanker stadium 4. Jangankan jalan-jalan, ke kamar mandi pun sulit untuk dilakukan tanpa bantuan. Bisa dikatakan, 100% harinya, dihabiskan di atas tempat tidur. Tak hanya itu, sambil harus terus berbaring ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sedemikian parah rasa saktinyanya, sehingga tubuhnya harus sering dielus-elus agar berkurang rasa sakitnya.
Namun meski kesehatannya sedemikian buruknya, ia berkata bahwa saat inilah justru waktu terindah dalam hidupnya? Apa gak salah, tuch? Saya bertanya dalam hati.
“Benar! Saat terbahagia dalam hidup, bagi saya adalah pada saat ini,”lanjut ER, kalimat yang memecah keheningan dan seolah menjadi jawaban pertanyaan dalam hati saya.
ER melanjutkan penjelasannya,”Sebagian orang menyatakan bahwa masa terbahagia adalah pada masa lalunya. Entah ketika mencapai prestasi tertentu atau ada hal yang menurutnya menyenangkan. Sebagian lagi menyatakan bahwa waktu terbahagia adalah di masa yang akan datang ketika keinginannya tercapai.”
“Mengapa kita menyatakan masa lalu sebagai hal yang terindah, padahal waktu tersebut sudah tidak lagi kita alami? Dan mengapa kita menyatakan bahwa masa terindah adalah masa yang akan datang? Padahal masa itu belum tentu akan kita alami. Kita sedang hidup pada masa sekarang, bukan di masa lalu ataupun di masa yang akan datang. Waktu yang benar-benar nyata, adalah sekarang, bukan masa lalu ataupun masa yang akan datang.“ER berhenti bicara sejenak, kondisi kesehatannya menyebabkannya tidak bisa berbicara lama, harus ada jeda.
ER kemudian menjelaslan bahwa rasa bahagia bukan karena apa yang terjadi atau apa yang kita terima. Namun rasa bahagia itu ada karena karena sikap kita atas apa yang terjadi dan sikap kita atas apa yang kita terima. Jadi bukan pada kondisi/peristiwa atau benda/sesuatu yang kita terima, namun pada pensikapan atas kejadian atau atas penerimaan dari sesuatu yang kita terima.
Bisa jadi, kondisinya sama, namun karena disikapi secara berbeda, maka menghasilkan hal yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa harta adalah sumber kebahagiaan. Namun bagi sebagian lain, justru menjadikanya sedemikian menderitanya, sehingga akhirnya bunuh diri.
Demikian juga dengan ketenaran, ketampanan/kecantikan, ternyata bukan jaminan bisa menjadi sumber kebahagiaan. Fakta menunjukkan ada seseorang itu kaya, cantik dan terkenal, namun ia justru tidak bahagia yang akhirnya bunuh diri. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang miskin, wajahnya biasa-biasa saja, tidak terkenal namun hidupnya bahagia karena memiliki sikap yang berbeda.
“Menjaga kesehatan, berobat, giat mencari nafkah memang harus kita lakukan karena itu perintah Allah SWT, namun bukan karena mencapai sumber kebahagiaan. Karena bahagia itu ada bukan karena apa yang terjadi dan diterima sesuai dengan keinginan, namun karena kita bersyukur. Kita bersyukur bukan karena Bahagia, namun karena kita Bahagia karena kita bersyukur.”Ia mengucapakan sesuatu yang mirip quote yang viral saat ini.
***
Kisah di atas, adalah satu cuplikan dialog saya dengan Almarhumah yang wafat di tahun 2008. Beliau telah tiada, namun pesannya masih abadi hingga kini, dan insya Allah untuk masa yang akan datang.
Suatu pelajaran bagi saya khususnya, harus malu bila masih sering mengeluh, merasa bete (misalnya karena gak bisa jalan-jalan), atau bila ada masalah-masalah yang dihadapi. Pelajaran juga bagi kita untuk mensyukuri dan jangan mengingkari nikmat yang diterima oleh kita, sekecil apa pun. Selalulah ingat nikmat yang Allah berikan bukan mengingat musibah atau ujian yang Allah berikan kepada kita.
Dengan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT, insya Allah, setiap hari yang kita lalui akan menjadi saat terbahagia dalam hidup kita.



