Ulama Dikekang, Hiburan Menggeliat: Kontradiksi Arab Saudi 

by -19237 Views
Festival musik di Riyadh, Arab Saudi.

Riyadh — Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi tampil dengan wajah baru. Konser internasional, festival musik, bioskop, dan zona hiburan terpampang di ruang publik negara yang selama puluhan tahun dikenal sangat konservatif. 

Di balik keriuhan panggung hiburan itu, muncul paradoks besar: ulama dan intelektual keagamaan yang kritis justru ditangkap, dibungkam, atau hilang dari ruang publik.

Kebijakan transformasi sosial ini merupakan bagian dari proyek Vision 2030 yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) — agenda besar yang menargetkan diversifikasi ekonomi, turisme, dan modernisasi gaya hidup masyarakat. 

TRT World melaporkan bahwa strategi ini menyasar generasi muda yang mendominasi populasi Saudi, sekaligus membuka pintu bagi investasi asing dan industri hiburan. Namun bersamaan dengan itu, kebebasan ekspresi dan kritik keagamaan tampak dibatasi dalam koridor politik yang semakin dikontrol ketat.

Hiburan Menggeliat, Konservatisme Bergeser

Bioskop yang sempat tertutup selama beberapa dekade kini beroperasi kembali. Festival MDL Beast disebut media internasional sebagai festival musik terbesar dalam sejarah Saudi. Nama-nama artis global seperti Mariah Carey, Blackpink dan David Guetta tampil di Riyadh Season. 

Pemerintah membingkai momentum ini sebagai simbol perubahan dan pencitraan Saudi yang lebih terbuka, progresif, dan siap menembus pasar global.

Bagi sebagian generasi muda kota, ini adalah angin segar. Namun bagi kelompok konservatif, perubahan tersebut menggeser pakem sosial yang beberapa dekade dijaga ketat oleh otoritas agama — terutama terkait aurat, campur laki-perempuan, dan musik yang dahulu dianggap tabu dalam arus utama Salafi-Saudi.

Di Balik Sorot Lampu: Gelombang Penangkapan Ulama

Di waktu yang nyaris bersamaan dengan liberalisasi sosial ini, gelombang penangkapan ulama terjadi sejak September 2017. Di antara nama-nama besar yang ditahan adalah Salman al-Ouda, ulama reformis yang kini mendekam tanpa persidangan transparan; Awad al-Qarni, penulis dan pengajar yang dituduh ekstremisme; serta Ali al-Omari, akademisi dan imam masjid yang juga masuk daftar penahanan.

Selain itu, tokoh-tokoh lain seperti Idris Abkar, Ali Badahdah, Abdullah al-Sweilem, hingga qari internasional Syekh Abdullah Basfar juga ditangkap. Kasus Basfar menjadi sorotan dunia karena ia dikenal luas melalui rekaman murattal Al-Qur’an, namun pada Agustus 2020 ditahan dan divonis penjara panjang tanpa proses pengadilan terbuka yang jelas, menurut laporan Middle East Monitor dan Amnesty International.

Penahanan ulama yang mengkritik konser atau mengomentari pergeseran sosial juga terjadi. Sheikh Omar al-Muqbil, misalnya, ditangkap setelah menyebut konser sebagai “pengikis identitas masyarakat”. 

Kasus-kasus seperti ini dinilai kelompok HAM internasional sebagai bentuk pembungkaman terhadap kritik keagamaan, bukan tindakan pencegahan ekstremisme seperti yang diklaim pemerintah.

Apa yang Terjadi pada Ulama Saudi Saat Ini?

Perubahan besar ini tampaknya tidak hanya menggeser wajah sosial Saudi, tetapi juga merombak ekosistem otoritas keagamaan. Dunia menyaksikan reposisi ulama yang selama beberapa dekade menjadi kekuatan penentu moral publik. Kini ulama berada dalam dua kutub yang berbeda.

Pertama, ulama negara (state-aligned scholars) — mereka yang mendukung agenda kerajaan. Kelompok ini cenderung menerima reformasi sosial dengan narasi maslahat dan ketaatan kepada penguasa. 

Tokoh-tokoh seperti Syekh Abdul Aziz al-Sheikh, Grand Mufti Saudi, serta sejumlah anggota Hai’ah Kibar al-Ulama masih aktif dan aman dalam posisi mereka. Mereka tampil lebih moderat, tidak lagi bersikap sekeras generasi pendahulu yang menolak musik, konser, dan pergaulan campur. 

Retorika yang muncul ialah bahwa selama keputusan negara tidak bertentangan dengan prinsip syariat, maka itu merupakan bagian dari maslahat.

Di sisi lain terdapat ulama independen — mereka yang lebih vokal mengkritik kebijakan kerajaan, menyerukan rekonsiliasi politik, atau mempertanyakan arah modernisasi sosial. Kelompok inilah yang banyak menghadapi penahanan, pembatasan aktivitas, pembredelan akun media sosial, atau hilang dari mimbar dakwah. Suara mereka meredup bukan karena kurang pengikut, tetapi karena negara memperketat ruang gerak kritik yang dianggap mengganggu stabilitas.

Dua Jalur Saudi Hari Ini

Arab Saudi hari ini bergerak dalam dua arus kebijakan yang saling bertentangan namun berjalan berdampingan. Di permukaan publik, kerajaan mendorong narasi tentang “Saudi Baru yang modern” — festival musik, konser, hiburan malam, bioskop, zona wisata, dan gaya hidup urban. Ekonomi dan turisme tampil sebagai motor utama perubahan.

Namun di sisi yang tak kasat mata bagi publik luar, mekanisme kontrol terhadap wacana keagamaan dan ruang kritik semakin diperketat. Penahanan ulama, aktivis, dan intelektual yang tidak sejalan dengan garis resmi menunjukkan bahwa liberalisasi sosial tidak serta merta diikuti perluasan kebebasan berpendapat. Otoritas agama yang dahulu sangat kuat kini semakin tersubordinasi oleh negara, agama hadir sebagai simbol yang dipoles sesuai kebutuhan stabilitas dan citra nasional.

Model negara yang sebelumnya dikenal religius-konservatif kini bergeser menuju bentuk modern-otoritarian: tampak terbuka pada hiburan dan budaya populer, namun mengunci ketat pintu kritik politik dan keagamaan. Islam tetap menjadi identitas formal, tetapi ruang tafsir dan fatwa berada dalam kontrol yang lebih terpusat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.