Insyafnya Sang Penidur

by -16 Views
Gambar oleh Syauqi Fillah dari Pixabay

By: Iwan Rudi Saktiawan, SSi, MAg, CIRBD

“Wan, bangun Wan!” Beberapa orang berteriak sambil berjalan diiringi derai tawa yang lainnya. Tempat kost saya di Malabar Ujung Bogor memang tempat lalu lalang banyak mahasiswa IPB yang kost di wilayah itu. 

“Kok sudah pada pulang?”Tanya saya sambil melihat jam. Jam menunjukkan pukul 07.15 pagi.

“Gak ada kuliah Wan, diundur,”Ujar Tejo teman saya yang berdiri tak jauh dari jendela kamar kost saya,”Lanjut terus Wan!”Canda Tejo yang diikuti dengan tawa kecil teman-teman yang lain.

Tanpa membuang waktu, saya lanjut rebahan dan pergi ke alam lain menyambung mimpi tadi yang sempat terputus.

***

Dulu, ada kebiasaan saya yang sulit berubah, yakni tidur lagi setelah shalat Subuh. Saat SMA, saya sering dihukum karena terlambat datang ke sekolah. Saat kuliah, bila ada kuliah yang dimulai pukul 7, saya lebih baik bolos dibandingkan mengganggu masa-masa indah, yakni tidur lagi setelah shalat subuh.  

Kebiasaan itu baru bisa hilang setelah menikah.  Istri saya, dengan sabar mengubah kebiasaan tersebut.

Saat bekerja di Daarut Tauhiid Bandung, saya harus sudah tiba di Geger Kalong Girang setiap hari senin sebelum pukul 7 pagi.  Rumah saya saat itu di Padalarang, sehingga waktu tempuh dari rumah ke DT paling cepat 2 jam menggunakan angkot atau 1 jam menggunakan sepeda motor.

Ada suatu dialog yang selalu saya ingat. Saat itu, saya merasa berat sekali tetap terjaga bakda subuh dan lanjut untuk berangkat kerja. Saya berujar,”Aduh, ngantuk sekali ya.”
Istri saya menjawab,”Mereka yang berangkat kerja di pagi hari bukan karena tidak mengantuk atau tidak memiliki rasa malas, tapi karena bisa mengalahkan rasa kantuk dan malas itu.”

“Rasa malas ini ada pada setiap orang. Sebagian orang mencari-cari alasan pembenaran atas rasa malasnya, sebagian lagi berjuang keras untuk mengalahkannya.”Ujar istri saya memberi semangat.

Dialog tersebut hingga saat ini selalu menjadi penyemangat untuk mengalahkan rasa kantuk dan malas di pagi hari.  Manfaatnya terasa hingga saat itu. Salah satunya adalah saat saya bekerja di BPRS Botani Bogor (2018 – 2021). Waktu itu saya tinggal di Depok.  Waktu tempuh Depok ke  Dramaga Bogor membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. Di kantor harus sudah sampai pada pukul 07.30 sehingga dari rumah paling telat pukul 05.30. Alhamdulillah tidak ada kendala. 

Yuk, berubah menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.