Dunia Kecam AS Usai Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

by -17333 Views

KBAI — Dunia internasional bereaksi keras setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membawanya ke wilayah AS. Di tengah gelombang kecaman global, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya akan mengambil alih kendali Venezuela untuk sementara waktu.

Dalam pernyataannya, Trump juga menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika Serikat akan memperoleh keuntungan dari sektor minyak Venezuela, negara yang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.

Trump, yang selama bertahun-tahun kerap mengkritik kebijakan “nation-building” Amerika Serikat di luar negeri, secara terbuka menyatakan bahwa Washington akan mengelola Venezuela, negara dengan hampir 30 juta penduduk, dalam masa transisi.

“Kami akan menjalankan negara itu sampai kami bisa memastikan adanya transisi yang aman, tepat, dan bijaksana,” ujar Trump dalam konferensi pers di kediamannya di Florida.

Kepemimpinan Sementara Masih Tidak Jelas

Meski demikian, bagaimana Amerika Serikat akan menjalankan pemerintahan Venezuela masih belum jelas. Kedutaan Besar AS di Caracas telah ditutup, dan tidak ada laporan resmi mengenai keberadaan pasukan AS di lapangan.

Trump mengatakan bahwa pemerintahannya sedang “menunjuk berbagai pihak”, termasuk sebuah “kelompok yang belum disebutkan namanya”. Ia menambahkan bahwa untuk “jangka waktu tertentu”, kepemimpinan Venezuela akan dijalankan oleh para pejabat yang berdiri di belakangnya saat konferensi pers, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan para pimpinan militer AS.

Selama beberapa bulan terakhir, Rubio kerap menegaskan bahwa bukan hanya Amerika Serikat, tetapi juga sebagian besar negara Barat, menganggap Maduro sebagai presiden yang tidak sah.

Namun, hanya beberapa jam setelah Maduro dibawa ke AS, Trump justru mengesampingkan kemungkinan Maria Corina Machado—tokoh oposisi yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu—untuk memimpin Venezuela.

“Saya pikir akan sangat sulit baginya untuk menjadi pemimpin,” kata Trump.
“Dia tidak memiliki dukungan maupun rasa hormat di dalam negeri. Dia perempuan yang baik, tetapi tidak memiliki legitimasi,” tambahnya.

Kontak dengan Wakil Presiden Venezuela

Trump menyatakan bahwa pemerintahannya tidak menjalin komunikasi dengan Machado, yang sebelumnya menyebut penangkapan Maduro sebagai “jam kebebasan” bagi Venezuela.

Sebaliknya, Trump mengungkapkan bahwa Marco Rubio telah berbicara melalui telepon dengan Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodriguez.

“Dia pada dasarnya bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali hebat,” ujar Trump.

Namun, pernyataan tersebut bertolak belakang dengan pidato Rodriguez kepada rakyat Venezuela. Dalam pidatonya, Rodriguez menegaskan bahwa Nicolas Maduro tetap merupakan satu-satunya presiden sah Venezuela dan menuntut agar ia segera dipulangkan.

Sekutu AS Jaga Jarak

Sejumlah sekutu Amerika Serikat yang sebelumnya menentang Maduro dengan cepat mengambil jarak dari langkah Trump.

Presiden Prancis Emmanuel Macron, meski menyambut berakhirnya pemerintahan Maduro, menegaskan bahwa kehendak rakyat Venezuela harus diwakili oleh kekuatan oposisi di dalam negeri, bukan oleh intervensi asing.

Di dalam negeri AS, para rival politik Trump dari Partai Demokrat mengecam keras keterlibatan terbuka perusahaan minyak dalam rencana pengelolaan Venezuela, yang mereka anggap sebagai bentuk imperialisme gaya lama.

“Amerika Serikat tidak seharusnya menjalankan negara lain dengan alasan apa pun,” kata Senator Brian Schatz.
“Kita seharusnya sudah belajar untuk tidak terlibat dalam perang tanpa akhir dan misi perubahan rezim yang membawa konsekuensi bencana bagi rakyat Amerika.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.