Pada 7 Jumada al-Akhirah 1371 H, bertepatan dengan 2–3 Maret 1952, lahir seorang tokoh yang kelak menjadi salah satu ulama paling berpengaruh di Mesir modern: Syaikh Ali Jum’ah.
Dengan hitungan Hijriah, ia kini memasuki usia 76 tahun—sementara perhitungan Masehi menempatkannya pada sekitar 73 tahun. Pada momentum kelahirannya, sebagian murid dan pengagumnya menuliskan ucapan selamat dan refleksi tentang kiprah sang ulama.
Dalam tradisi Islam kontemporer, peringatan hari lahir bukan hal yang sepenuhnya diterima atau ditolak. Ada ulama yang memandangnya sebagai bid’ah, ada pula yang membolehkan selama tidak menyerupai “hari raya”.
Dalam batas mengenang kiprah seseorang, banyak yang melihatnya sebagai kesempatan menimbang jasa dan kelemahannya.
Moment inilah yang membuka ruang evaluasi terhadap sosok Ali Jum’ah—tokoh yang tidak mungkin dilepaskan dari dinamika keilmuan Al-Azhar dan politik Mesir.
Jejak Ilmiah yang Tak Terbantahkan
Ali Jum’ah memulai pendidikan tinggi di bidang ekonomi, mengikuti keinginan keluarganya. Namun cintanya pada ilmu agama mendorongnya melanjutkan studi di Fakultas Dirasat Islamiyah, Universitas Al-Azhar. Di sana ia belajar pada banyak masyayikh, baik di dalam maupun di luar kampus.
Kapasitas keilmuannya tampak jelas dalam berbagai kuliah dan syarahnya. Ia dikenal menguasai:
- kaidah-kaidah fikih,
- ushul fikih,
- bahasa Arab,
- terutama fikih mazhab Syafi‘i.
Dalam banyak karya, ia tampil sebagai ulama dengan kemampuan analitis dan argumentatif yang kuat. Beberapa penelitian dan tahqiq yang ia kerjakan—terutama yang melibatkan kerja sama dengan lembaga penelitian—dianggap memberikan kontribusi penting bagi khazanah fikih kontemporer.
Meski demikian, tidak semua karyanya dipuji. Salah satu yang paling dikritik adalah tahqiqnya terhadap al-Furuq karya al-Qarafi. Para peneliti menilai buku itu dikerjakan tanpa ketelitian ilmiah yang memadai, bahkan memuat kesalahan mendasar seperti keliru membedakan antara Ibn al-‘Arabi dan Ibn ‘Arabi.
Kritik tersebut menunjukkan bahwa sebagian karya yang memuat namanya tampaknya tidak ia kerjakan secara langsung.
Namun secara umum, reputasinya sebagai seorang ilmuwan dan pendidik tetap kuat. Banyak yang mengakui bahwa Ali Jum’ah memiliki kapasitas ilmiah yang tidak bisa diingkari.
Peran Penting di Darul Ifta Mesir
Ketika menjabat sebagai Mufti Mesir, Ali Jum’ah berperan besar dalam mentransformasi Darul Ifta menjadi lembaga fatwa modern. Ia mewarisi pondasi awal yang diletakkan oleh Syaikh Jad al-Haq, dan meneruskan proyek digitalisasi, arsitektur organisasi, dan standardisasi fatwa.
Pengalaman administratifnya di International Institute of Islamic Thought (IIIT) turut membentuk kepemimpinannya. Ia menerapkan sistem pelatihan bagi para peneliti fatwa, memperluas komunikasi dengan lembaga riset nasional, serta memperkuat kerja kolektif dalam penyusunan fatwa.
Sebagian besar fatwa Darul Ifta pada masa kepemimpinannya dinilai profesional dan independen. Para pengamat memperkirakan lebih dari 95% fatwa yang dikeluarkan lembaga itu bersifat ilmiah murni, bukan politis.
Kontroversi Politik dan Tuduhan Keberpihakan
Sisi inilah yang paling menyulut perdebatan tentang Ali Jum’ah: kedekatannya dengan kekuasaan.
Selama era Mubarak ia dianggap selaras dengan pemerintah. Ketika presiden Mursi berkuasa, ia mengambil posisi berseberangan.
Setelah perubahan politik 2013, ia tampil sebagai pendukung kuat pemerintahan baru dan sering mengeluarkan pernyataan publik yang dipandang memberi legitimasi pada tindakan politik negara.
Ia juga sering melontarkan kritik keras terhadap Ikhwanul Muslimin, bahkan pernah menuduh kelompok itu berencana membunuhnya—sebuah klaim yang banyak dinilai tidak berdasar.
Sikap inilah yang membuatnya sering dipersepsikan sebagai “ulama negara”, bukan ulama umat.
Selain itu, kecenderungannya tampil di media, gaya orasinya yang bernada sufistik, serta pernyataan-pernyataan simbolik yang dianggap “demi kamera”, semakin menguatkan persepsi publik bahwa Ali Jum’ah sangat peduli pada sorotan dan panggung.
Relasinya dengan Ikhwanul Muslimin
Dari sisi politik, masalah Ali Jum’ah adalah bahwa ia kadang terlalu berpihak pada penguasa. Ia tidak menyembunyikan hal itu. Ia bersama Mubarak, tidak bersama Mursi, dan seterusnya.
Padahal ia dekat dengan lingkungan Ikhwan di masa muda. Beberapa kritikus menilai bahwa seiring waktu ia berpindah total menjadi pendukung kekuasaan.
Masalah lainnya adalah ia kemudian menjadi sangat personal dalam perbedaan pendapat, sampai menyerang Syaikh Qaradhawi, menyerang Ikhwan dalam setiap isu, benar atau salah.
Ia pernah mengklaim bahwa Ikhwan ingin membunuhnya—ini klaim kosong tanpa bukti. Jika Ikhwan mau membunuh siapa pun, mestinya mereka memprioritaskan orang yang menandatangani keputusan eksekusi terhadap mereka, bukan Ali Jum’ah—yang secara politik tidak berada pada pusat kekuasaan saat itu.
Pesan Muhasabah untuk Seorang Ulama Besar
Pada usia yang telah melewati 70 tahun, banyak yang berharap Ali Jum’ah melakukan introspeksi. Sebagaimana ia sering meminta kelompok lain melakukan muhasabah, kini sisanya adalah pada dirinya sendiri.
Pertanyaan yang banyak diajukan para pengamat dan murid-muridnya:
- Apakah dukungannya terhadap kekuasaan tidak perlu ditinjau ulang?
- Apakah pernyataannya tentang kelompok-kelompok tertentu tidak perlu diluruskan?
- Apakah posisi politiknya selama ini sudah sejalan dengan tanggung jawab moral seorang ulama?
Harapan terbesar adalah agar Ali Jum’ah kembali mengambil posisi sebagai ulama umat, bukan ulama istana. Bahwa ia menggunakan ilmunya untuk menegakkan kebenaran, bukan untuk membenarkan kebijakan negara.
Dan bahwa warisan yang ia tinggalkan kelak adalah yang akan berguna saat berhadapan dengan Allah, bukan sekadar pujian para pengikut atau media.
Penutup
Perjalanan Syaikh Ali Jum’ah penuh capaian besar sekaligus kontroversi. Ia seorang alim dengan kapasitas ilmiah yang kuat, seorang administrator yang berhasil mengembangkan Darul Ifta, namun juga seorang tokoh yang sikap politiknya kerap mengundang kritik tajam.
Pada hari kelahirannya, sebagian orang memilih mengucapkan selamat. Sebagian lainnya justru mendorong muhasabah. Namun pada akhirnya, semuanya bertolak dari harapan yang sama:
Semoga Allah memanjangkan usia beliau dalam ketaatan, dan membimbingnya—serta kita semua—untuk meninjau kembali setiap langkah, perkataan, dan sikap.





