230 Dokter Lulus di Gaza di Tengah Perang, Gelar Wisuda di Kompleks Medis Al-Shifa yang Hancur

by -16762 Views

Gaza — Warga Palestina di Jalur Gaza menggelar wisuda bagi 230 dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar dan Universitas Islam Gaza pada Sabtu (3/12), di tengah kehancuran akibat perang yang berkepanjangan. Angkatan lulusan tersebut diberi nama “Kelas Phoenix 2025”, sebagai simbol keteguhan dan kebangkitan setelah melalui perjalanan pendidikan yang penuh bahaya dan keterbatasan.

Upacara wisuda diselenggarakan oleh Yayasan Samir di halaman Kompleks Medis Al-Shifa, fasilitas kesehatan terbesar di Gaza yang telah dua kali hancur akibat serangan Israel. Acara ini menjadi bentuk penghormatan kepada para lulusan yang berhasil menyelesaikan pendidikan kedokteran meskipun sistem pendidikan dan kesehatan Gaza mengalami kerusakan parah.

Dalam prosesi wisuda, sebuah foto besar staf medis yang gugur dipasang di atas gedung Bedah Khusus Al-Shifa yang hancur, disertai tulisan, “Kami mengikuti jejakmu dan melanjutkan perjalanan kedokteran dan kemanusiaan.” Area wisuda juga dihiasi foto para mahasiswa kedokteran yang tewas selama perang, dengan slogan, “Mereka bersama kami di jalan, meski tidak hadir di panggung wisuda.”

Salah satu lulusan, Ezz El-Din Lulu, menyampaikan pidato mewakili Yayasan Samir. Ia menyoroti beratnya perjalanan menuju kelulusan, termasuk pengalaman pribadinya kehilangan 20 anggota keluarga, di antaranya sang ayah yang hingga kini jenazahnya masih tertimbun reruntuhan.

“Kesuksesan ini tidak datang dengan mudah. Kami membawanya bersama luka, kehilangan, dan kesabaran yang panjang,” ujarnya.

Sementara itu, Raghad Hassouna, dokter lulusan lainnya, mengatakan bahwa nama Phoenix dipilih bukan tanpa makna. “Nama ini adalah nubuat yang menjadi kenyataan. Kami berhasil bangkit di tengah penderitaan, kehancuran, dan tantangan berat yang ditimbulkan oleh perang,” katanya dalam pidato wisuda.

Upacara tersebut juga dihadiri oleh para dekan fakultas kedokteran, mitra akademik, serta pihak-pihak yang mendukung mahasiswa selama masa studi. Mereka menyampaikan ucapan selamat dan harapan agar para lulusan dapat menapaki masa depan yang lebih aman dan stabil, serta berkontribusi pada pelayanan kesehatan masyarakat Gaza.

Alaa Zaqout, lulusan Universitas Islam Gaza, menggambarkan masa studinya sebagai periode yang sangat berat akibat agresi Israel. “Ini bukan hanya perang terhadap keluarga kami, tetapi juga terhadap tempat belajar dan pelatihan kami. Kami menerima kabar tentang korban di Gaza, sekaligus tentang kerabat, kolega, dan teman-teman kami sendiri,” ujarnya.

Kepada Al-Araby Al-Jadeed, Zaqout mengaku sering dikejutkan oleh kabar duka saat menjalani pelatihan di rumah sakit tempat ia kini bekerja. Namun, hal itu justru memperkuat tekadnya untuk menyelesaikan pendidikan dan melanjutkan karier medis, meskipun kelulusannya sempat tertunda sekitar enam bulan akibat kondisi perang.

Pengalaman serupa dialami Riham Al-Souri, lulusan Universitas Al-Azhar Gaza. Ia mengatakan bahwa kondisi lapangan yang berbahaya, pengepungan, serta kehancuran sektor pendidikan dan kesehatan membuat proses belajarnya sangat berat.

Selain ancaman keamanan, Al-Souri juga menghadapi pemadaman listrik dan internet, kesulitan transportasi, serta jadwal pelatihan yang tidak menentu. “Saya melakukan hal yang hampir mustahil untuk melanjutkan studi. Saya mendaftar pelatihan di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa karena tinggal di wilayah tengah, dan saya bertekad bertahan meskipun fasilitas sangat terbatas,” ujarnya.

Kesulitan serupa dialami Shams Abu Suweireh, lulusan kedokteran lainnya, yang harus menghadapi pengungsian dan keterbatasan sumber daya belajar. Kekurangan buku dan materi kuliah memaksanya bergantung pada iPad, yang kerap tidak dapat digunakan akibat pemadaman listrik dan gangguan internet.

“Kami menghadapi semua itu karena kami percaya pada mimpi kami,” kata Abu Suweireh.

Wisuda ini menjadi penanda keteguhan mahasiswa kedokteran Gaza yang tetap melanjutkan pendidikan di tengah kehancuran, sekaligus cerminan perlawanan sipil melalui ilmu pengetahuan dan kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.