Keutamaan Bulan Rajab

by -21430 Views

Kita sering mendengar para penceramah khutbah Jumat—terutama di awal bulan Rajab—menyebut berbagai hadits tentang keutamaan bulan ini dan besarnya pahala yang Allah janjikan bagi orang yang berpuasa, meskipun hanya satu hari.

Di antara hadits yang kerap dikutip adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Rajab adalah bulan Allah, Sya‘ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Bagaimana pandangan Anda terhadap hadits-hadits semacam ini?
Apakah hadits-hadits tersebut memiliki dasar yang sahih atau dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah?
Dan bagaimana hukum bagi seseorang yang meriwayatkan hadits palsu lalu menisbatkannya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawaban Yang Mulia Syekh

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarga beliau, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka hingga Hari Kiamat.

Perlu ditegaskan bahwa tidak ada riwayat hadits yang sahih secara khusus tentang keutamaan bulan Rajab, kecuali satu hal yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an, yaitu bahwa Rajab termasuk salah satu dari empat bulan haram (bulan suci) yang disebutkan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.”
(QS. At-Taubah: 36)

Keempat bulan suci tersebut adalah Rajab, Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Keutamaan Rajab terbatas pada kedudukannya sebagai bulan haram, tidak lebih dari itu.

Adapun hadits sahih yang sering dijadikan rujukan hanyalah hadits tentang keutamaan bulan Sya‘ban, yaitu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengapa beliau banyak berpuasa di bulan tersebut. Beliau bersabda:

“Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, berada di antara Rajab dan Ramadhan.”

Hadits ini tidak menetapkan keutamaan khusus Rajab, tetapi justru menegaskan keutamaan Sya‘ban yang sering diabaikan.

Sementara itu, hadits yang berbunyi:

“Rajab adalah bulan Allah, Sya‘ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku”

adalah hadits yang sangat lemah, bahkan banyak ulama hadits menyatakannya sebagai hadits palsu (maudhu‘). Hadits ini tidak memiliki nilai ilmiah maupun nilai keagamaan untuk dijadikan hujjah.

Demikian pula hadits-hadits lain yang beredar tentang keutamaan bulan Rajab—seperti klaim bahwa shalat tertentu, puasa sehari, atau istighfar sekali di bulan Rajab akan mendatangkan pahala yang sangat besar—seluruhnya termasuk hadits palsu dan dibuat-buat.

Salah satu tanda utama kepalsuan hadits adalah adanya unsur berlebihan dan sensasional, seperti:

  • Janji pahala yang sangat besar untuk amalan yang sepele

  • Ancaman hukuman yang sangat berat untuk dosa kecil

Para ulama hadits telah menetapkan kaidah:
Janji pahala yang tidak proporsional atau ancaman yang berlebihan sering kali menjadi indikasi kepalsuan hadits.

Sebagai contoh, hadits palsu yang sering dikutip:

“Memberi makan satu orang lapar lebih utama daripada membangun seribu masjid.”

Kepalsuan hadits ini tampak jelas, karena tidak masuk akal secara syariat bahwa satu perbuatan sunnah dapat mengalahkan pahala amal besar seperti membangun seribu masjid.

Hadits-hadits tentang keutamaan bulan Rajab termasuk dalam kategori ini.

Karena itu, para ulama dan pendakwah wajib menjelaskan dan memperingatkan umat agar tidak tertipu oleh hadits-hadits palsu dan fiktif. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Barang siapa meriwayatkan suatu hadits yang ia yakini sebagai dusta, maka ia termasuk salah satu dari para pendusta.”

Namun, jika seseorang meriwayatkan hadits palsu karena ketidaktahuan, maka kewajibannya adalah belajar, meneliti, dan merujuk kepada sumber-sumber ilmiah yang dapat dipercaya. Dalam khazanah Islam, terdapat banyak kitab yang secara khusus menjelaskan hadits-hadits lemah dan palsu, di antaranya:

  • Al-Maqāṣid al-Ḥasanah karya As-Sakhawi

  • Tamyīz ath-Ṭayyib min al-Khabīts karya Ibnu Ad-Diba‘

  • Kasyf al-Khafā’ wa Muzīl al-Ilbās karya Al-‘Ajluni

Kitab-kitab ini dan semisalnya wajib dikenal oleh para dai dan penceramah, agar mereka tidak menyampaikan hadits kecuali yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sayangnya, salah satu penyakit yang telah menyusup ke dalam budaya Islam adalah meluasnya hadits-hadits palsu dalam khutbah, buku, dan lisan masyarakat, padahal hadits-hadits tersebut asing dari ajaran agama yang murni.

Oleh sebab itu, kita wajib membersihkan dan menyucikan budaya Islam dari hadits-hadits palsu semacam ini.

Allah Ta‘ala telah memberkahi para ulama yang membedakan antara ilmu yang sahih dan yang sesat, antara yang diterima dan yang tertolak. Maka kewajiban kita adalah mengambil manfaat dari ilmu mereka dan mengikuti penjelasan mereka.

Dan Allah-lah sumber segala taufik dan keberhasilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.